Sejarah Kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam, 1659-1823 dan Penyerangan Belanda

Berdasar Kidung Pamacangah & Babad Arya Tabanan, disebutkan seorang tokoh dari Kediri yg bernama Arya Damar sebagai bupati Palembang turut serta menaklukan Bali bersama dengan Gajah Mada Mahapatih Majapahit pada tahun 1343. Sejarawan Prof. C. C. Berg menganggapnya identik dengan Adityawarman.

Begitu juga dlm Nagarakretagama, nama Palembang telah disebutkan sebagai daerah jajahan Majapahit serta Gajah Mada dlm sumpahnya yg terdapat dlm Pararaton juga telah menyebut Palembang sebagai sebuah kawasan yg akan ditaklukannya.
Selanjutnya berdasarkan kronik Tiongkok nama Pa-lin-fong yg terdapat pada buku Chu-fan-chi yg ditulis pada tahun 1178 oleh Chou-Ju-Kua dirujuk kepada Palembang, & kemudian sekitar tahun 1513, Tomé Pires seorang petualang dari Portugis menyebutkan Palembang, telah dipimpin oleh seorang patih yg ditunjuk dari Jawa yg kemudian dirujuk kepada kesultanan Demak serta turut serta menyerang Malaka yg waktu itu telah dikuasai oleh Portugis. Kemudin pada tahun 1596, Palembang juga ditaklukan oleh kesultanan Banten. Seterusnya nama tokoh yg dirujuk memimpin kesultanan Palembang dari awal ialah Sri Susuhunan Abdurrahman tahun 1659.

Walau sejak tahun 1601 telah ada hubungan dengan VOC dari yg mengaku Sultan Palembang. Kesultanan Palembang Darussalam ialah suatu kerajaan Islam di Indonesia yg berlokasi di sekitar kota Palembang, Sumatera Selatan sekarang. Kerajaan ini diproklamirkan oleh Sri Susuhunan Abdurrahman dari Jawa & dihapuskan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 7 Oktober 1823.
Malthe Conrad Bruun [1755-1826] seorang petualang & ahli geografi dari Perancis mendeskripsikan keadaan masyarakat & kota kerajaan waktu itu, yg telah dihuni oleh masyarakat yg heterogen terdiri dari Cina, Siam, Melayu & Jawa serta juga disebutkan bangunan yg telah dibuat dengan batu bata hanya sebuah vihara & istana kerajaan.

Keraton Kuto Gawang

Kota berbenteng yg di kemudian hari dikenal dengan nama Kuto Gawang ini mempunyai ukuran 290 Rijnlandsche roede [1093 meter] baik panjang maupun lebarnya. Tinggi dinding yg mengitarinya 24 kaki [7,25 meter]. Orang-orang Tionghoa & Portugis berdiam berseberangan yg terletak di tepi sungai Musi. Kota berbenteng ini sebagaimana dilukiskan pada tahun 1659 [Sketsa Joan van der Laen], menghadap ke arah Sungai Musi [ke selatan] dengan pintu masuknya melalui Sungai Rengas. Di sebelah timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe, & di sebelah baratnya berbatasan dengan Sungai Buah.

Pada awal abad ke-17, Palembang menjadi pusat pemerintahan kerajaan yg bernuansa Islam dengan pendirinya Ki Gede ing Suro, bangsawan pelarian dari Kesultanan Demak akibat kemelut politik sesudah mangkatnya Sultan Trenggana. Pada masa ini pusat pemerintahan di daerah sekitar Kelurahan 2-Ilir, di tempat yg sekarang merupaken kompleks PT Pupuk Sriwijaya. Secara alamiah lokasi keraton cukup strategis, & secara teknis diperkuat oleh dinding tebal dari kayu unglen & cerucup yg membentang antara Plaju dengan Pulau Kembaro, sebuah pulau kecil yg letaknya di tengah Sungai Musi. Keraton Palembang yg dibangunnya itu disebut Keraton Kuto Gawang yg bentuknya empat persegi panjang dibentengi dengan kayu besi & kayu unglen yg tebalnya 30 x 30 cm/batangnya.

Dalam gambar sketsa tahun 1659 tampak Sungai Taligawe, Sungai Rengas, & Sungai Buah tampak terus ke arah utara & satu sama lain tak bersambung. Sebagai batas kota sisi utara ialah pagar dari kayu besi & kayu unglen. Di tengah benteng keraton tampak berdiri megah bangunan keraton yg letaknya di sebelah barat Sungai Rengas. Benteng keraton mempunyai tiga buah baluarti [bastion] yg dibuat dari konstruksi batu. Orang-orang asing ditempatkan/ber¬mukim di sebe¬rang sungai sisi selatan Musi, di sebelah barat muara sungai Komering [sekarang daerah Seberang Ulu, Plaju].

Keraton Beringin Janggut

Setelah Keraton Kuto Gawang dihancurkan VOC tahun 1659, oleh Susuhunan Abdurrahman pusat pemerintahan dipindahkan ke Beringin Janggut yg letaknya di sekitar kawasan Mesjid Lama [Jl. Segaran]. Sayang data tertulis maupun gambar sketsa mengenai keberadaan, bentuk, & ukuran keraton ini sampai saat ini tak ada. Daerah sekitar Keraton Beringin Janggut diba¬tasi oleh sungai-sungai yg saling berhubungan. Kawasan keraton di¬batasi oleh Sungai Musi di selatan, Sungai Tengkuruk di sebelah barat, Sungai Penedan di sebelah utara, & Sungai Rendang/Sungai Karang Waru di sebelah timur. Sungai Penedan merupaken sebuah kanal yg menghubungkan Sungai Kemenduran, Sungai Kapuran, & Sungai Kebon Duku. Karena sungai-sungai ini saling berhubungan, penduduk yg mengadakan perjalanan dari Sungai Rendang ke Sungai Tengkuruk, tak lagi harus keluar melalui Sungai Musi. Dari petunjuk ini dapat diperoleh gambaran bahwa aktivitas sehari-hari pada masa itu telah berlang¬sung di darat agak jauh dari Sungai Musi.

Keraton Kuto Besak

Pada masa pemerintahan Sultan Muhamad Bahaudin [1776-1803], dibangun Keraton Kuto Besak. Letaknya di sebelah barat Keraton Kuto Tengkuruk. Kuto ini mempunyai ukuran panjang 288,75 meter, lebar 183,75 meter, tinggi 9,99 meter, & tebal dinding 1,99 meter membujur arah barat-timur [hulu-hilir Musi]. Di setiap sudutnya terdapat bastion. Bastion yg terletak di sudut baratlaut bentuknya berbeda dengan tiga bastion lain, sama seperti pada bastion yg sering ditemukan pada benteng-benteng lain di Indonesia. Justru ketiga bastion yg sama itu merupaken ciri khas bastion Benteng Kuto Besak. Di sisi timur, selatan, & barat terdapat pintu masuk benteng. Pintu gerbang utama yg disebut lawang kuto terletak di sisi sebelah selatan menghadap ke Sungai Musi. Pintu masuk lainnya yg disebut lawang buratan jumlahnya ada dua, tetapi yg masih tersisa hanya sebuah di sisi barat. Perang Palembang 1821 & dibubarkannya institusi Kesultanan pada 7 Oktober 1823, bangunan Kuto Tengkuruk diratakan dengan tanah. Di atas runtuhan Kuto Tengkuruk, atas perintah van Sevenhoven kemudian dibangun rumah Regeering Commissaris yg sekarang menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Keraton Kesultanan Palembang Darussalam, Kuto Tengkuruk

Kawasan inti Keraton Kesultanan Palembang-Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I luasnya sekitar 50 hektar dengan batas-batas di sebelah utara Sungai Kapuran, di sebelah timur berbatasan dengan Sungai Tengkuruk [sekarang menjadi Jl. Jenderal Soedirman], di sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Musi, & di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Sekanak. Pada awalnya di areal tanah yg luasnya sekitar 50 hektar ini hanya terdapat bangunan Kuto Batu atau Kuto Tengkuruk & Masjid Agung dengan sebuah menara yg atapnya berbentuk kubah. Pada saat ini batas kota Palembang kira-kira di sebelah timur berbatasan dengan Kompleks PT. Pusri, di sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Musi, di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Lambidaro [36 Ilir], & di sebelah utara sampai sekitar Pasar Cinde.

Nama-nama Sultan Palembang

  1. Sri Susuhunan Abdurrahman [1659-1706]
  2. Sultan Mahmud Badaruddin I [1724-1757]
  3. Sultan Ahmad Najamuddin I [1757-1776]
  4. Sultan Muhammad Bahauddin [1776-1803]
  5. Sultan Mahmud Badaruddin II [1804-1812, 1813, 1818-1821]
  6. Sultan Ahmad Najamuddin II [1812-1813, 1813-1818]
  7. Sultan Ahmad Najamuddin III [1821-1823]

Penyerangan Inggris ke Palembang

Pada tahun 1811, Sultan Mahmud Badaruddin II menyerang pos tentara Belanda yg berada di Palembang, namun ia menolak bekerja sama dengan Inggris, sehingga Thomas Stamford Bingley Raffles mengirimkan pasukan menyerang Palembang & Sultan Mahmud Badaruddin II terpaksa melarikan diri dari istana kerajaan, kemudian Raffles mengangkat Sultan Ahmad Najamuddin II adik Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai raja. Pada tahun 1813 Sultan Mahmud Badaruddin II kembali mengambil alih kerajaan namun satu bulan berikutnya diturunkan kembali oleh Raffles & mengangkat kembali Sultan Ahmad Najamuddin II, sehingga menyebabkan perpecahan keluarga dlm kesultanan Palembang.

Pada tahun 1818 Belanda menuntut balas atas kekalahan mereka sebelumnya & menyerang Palembang serta berhasil menangkap Sultan Ahmad Najamuddin II & mengasingkannya ke Batavia. Namun Kesultanan Palembang kembali bangkit melakukan perlawanan yg kemudian kembali dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II. Lalu pada tahun 1819, Sultan mendapat serangan dari pasukan Hindia yg antara lain dikenal sebagai Perang Menteng [diambil dari kata Mungtinghe]. Pada tahun 1821 dengan kekuatan pasukan lebih dari 4000 tentara, Belanda kembali menyerang Palembang & berhasil menangkap Sultan Mahmud Badaruddin II yg kemudian diasingkan ke Ternate. Kemudian pada tahun 1821 tampil Sultan Ahmad Najamuddin III anak Sultan Ahmad Najamuddin II sebagai raja berikutnya, namun pada tahun 1823 Belanda menjadikan kesultanan Palembang berada dibawah pengawasannya, sehingga kembali menimbulkan ketidakpuasan di kalangan istana. Puncaknya pada tahun 1824 kembali pecah perang, namun dapat dengan mudah dipatahkan oleh Belanda, di tahun 1825 Sultan Ahmad Najamuddin III menyerah kemudian diasingkan ke Banda Neira.

Ekonomi Kesultanan Palembang

Kesultanan Palembang berada kawasan yg strategis dlm melakukan hubungan dagang terutama hasil rempah-rempah dengan pihak luar. Kesultanan Palembang juga berkuasa atas wilayah kepulauan Bangka Belitung yg memiliki tambang timah & telah diperdagangankan sejak abad ke-18.

kerajaan islam darusssalam palembang sejarah kerajaan palembang sultan yang ada di palembang perlawanan kesultanan palembang perlawanan kesultanan palembang masa akhir perlawanan palembang perlawanan kesultanan palembang penyerangan kerajaan palembang terhadap belanda sejarah islam malaka dan palembang darusalam kemajuan kerajaan palembang makalah sejarah kesultanan palembang darussalam nama nama kerajaan yang ada di palembang perlawanan kesultanan palembang makalah perlawanan kesultanan palembang hubungan kesultanan palembang dengan belanda